Mendesain Kegiatan Pembelajaran "Learning design" 

Pada dasarnya tugas guru sangat mirip dengan target kurikulum, yaitu banyaknya konten relevan yang diselesaikan guru dalam proses pembelajaran. Untuk menyelesaikan tugas tersebut salah satunya adalah kemampuan guru dalam merencanakan mata pelajaran. Dengan kemampuan ini diharapkan guru bisa mengelola dan mengatur proses pembelajaran dengan tepat (Hamalik, 2006). Intinya, rencana pembelajaran mengacu pada semua operasi yang perlu dilakukan untuk melaksanakan proses pembelajaran agar berjalan lancar dari awal pelajaran hingga akhir pelajaran, dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Karena guru gagal mengatur kelas secara efektif, banyak proses pembelajaran yang terhalang. Kalaupun perencanaan dilakukan dengan baik, namun terdapat kerusakan di dalam kelas, hal tersebut dikarenakan tujuan pembelajaran belum terarah dan sulit untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Keterampilan perencanaan sangat penting untuk pembelajaran yang baik. Perencanaan yang baik yang dilakukan oleh guru akan mengarah pada pengembangan kemampuan perencanaan diri siswa yang baik. Ketika siswa belajar mengatur diri mereka sendiri dengan lebih baik, guru akan lebih mudah untuk fokus pada pembelajaran yang efektif. Upaya harus dilakukan untuk mempelajari teknik perencanaan agar tidak mengganggu semua aspek pembelajaran (Hamalik, 2006) Tindakan perencanaan harus dapat mencegah timbulnya masalah, termasuk memilih strategi pengelolaan yang tepat dengan memperhatikan hal-hal berikut.

  1. Kematangan siswa dan hubungannya dengan orang lain.
  2. Jumlah siswa, jumlah dan jenis alat, ruang, waktu dan tujuan yang terbatas Pembelajaran.
  3. Kepribadian guru.

Tugas guru dalam meningkatkan prestasi akademik siswa adalah bagaimana merancang dan melaksanakan keterampilan belajar sehingga siswa dapat membutuhkan waktu yang lebih lama untuk belajar aktif dan memiliki kesempatan dan iklim belajar yang cukup.

Menurut Manurung (2017) dalam merancang kegiatan pembelajaran, unsur-unsur berikut perlu diperhatikan: merumuskan tujuan, pemilihan sumber belajar, pemilihan dan pengorganisasian materi ajar, mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok, menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan, menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan, skenario/kegiatan pembelajaran, dan penilaian.

1. Merumuskan tujuan

Merumuskan tujuan bisa juga disebut sebagai indikator hasil belajar, kemampuan yang ingin dicapai atau istilah lain yang memiliki arti yang sama. Sasarannya harus: a) jelas tidak menyebabkan banyak penjelasan, b) setidaknya memasukkan bagian-bagian komponen dan perilaku pelajar sebagai hasil belajar. Perilaku ini diekspresikan dalam bentuk karta kerja operasional dan mengandung substansi, c) memenuhi kemampuan dasar yang dijelaskan dalam kemampuan dasar.

2. Pemilihan sumber belajar

Sumber belajar dapat berupa manusia, perpustakaan dan lingkungan, dan media merupakan bagian dari sumber belajar khusus. Indikator sumber belajar yang baik: a) Sesuai dengan tujuan pembelajaran; b) Sesuai materi; c) Sesuai dengan karakteristik siswa.

3. Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar

Pemilihan dan organisasi bahan ajar harus a) menurut materi sesuai dengan tujuan pembelajaran atau kemampuan yang ingin dicapai; b) menurut karakteristik siswa, keluasan dan kedalaman materi dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa, yaitu memberikan layanan pembelajaran yang berbeda bagi siswa yang memiliki kemampuan berbeda; c) menyesuaikan tatanan dan sistem materi agar sesuai dengan karakteristik subjek;  d) kesesuaian bahan tercapai dalam waktu yang ditentukan.

4. Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok

Tuliskan garis besar atau poin utama yang terkait langsung dengan indikator dan tujuan belajar

5. Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan

Tuliskan metode yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Seperti ceramah, tanya jawab, karyawisata, dll.) Pembelajaran inkuiri biasanya disebut dengan model pembelajaran discovery. Pembelajaran inkuiri memungkinkan siswa untuk menemukan dan menyelidiki masalah dengan cara yang sistematis, kritis, logis, dan analitis sepenuhnya. Model ini sangat sesuai untuk pembelajaran matematika, guru hanya sebagai fasilitator dalam langkah-langkah pembelajaran yaitu: 1) guru mengedepankan masalah yang harus diselesaikan dan tujuan yang harus dicapai; 2) siswa mengajukan pertanyaan; 3) membuat hipotesis; 4) kumpulkan data; 5) pengujian hipotesis; 6) dapatkan kesimpulan.

6. Menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan

Menulis sumber belajar yang akan digunakan, meliputi alat peraga, media dan bahan ajar / sumber buku

​​​​​​​7. Skenario/kegiatan pembelajaran

Tahapan kegiatan meliputi tahapan-tahapan. Langkah-langkah ini tercermin dalam strategi dan metode termasuk waktu. Rencana tersebut harus: a) menyesuaikan strategi dan metode dengan tujuan; b) materi sesuai dengan strategi dan metode; c) sesuai dengan karakteristik strateginya; d) bervariasi sesuai dengan waktu (pembukaan: 5-10%; inti: 70-80%; penutupan: 10-15%)

​​​​​​​8. Penilaian

Kembangkan kriteria evaluasi, formulir observasi, contoh pertanyaan, teknik penilaian, dll.

Evaluasi dapat dilakukan dalam bentuk-bentuk sebagai berikut: tes tulis, kinerja, produk, penugasan/proyek, dan portofolio.

Tuliskan penilaian yang akan dilakukan untuk menentukan apakah tujuan pembelajaran dan kemampuan dasar terpenuhi serta pilih jenis penilaian

 

A. Pengertian perencanaan pembelajaran

Perencanaan berasal dari kata plan yang artinya membuat keputusan untuk mencapai tujuan (Sanjaya, 2012) Perencanaan merupakan salah satu fungsi pertama dari aktivitas manajemen untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Perencanaan tersebut juga disebut visi masa depan, dan menciptakan kerangka kerja untuk memandu tindakan seseorang di masa depan. Terry dalam Nasution (2017) mengemukakan bahwa perencanaan adalah keputusan kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Reigeluth yang dikutip oleh Nasution (2017) membedakan perencanaan dari pengembangan. Reigeluth mengatakan bahwa pengembangan adalah penerapan grid perencanaan di lapangan. Kemudian, setelah menyelesaikan percobaan, perbaiki atau perbarui rencana berdasarkan masukan yang telah diperoleh.

Oleh karena itu, proses perencanaan harus dimulai dengan analisis kebutuhan yang lengkap dan dokumentasi untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai, kemudian menentukan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Saat kita merencanakan, hukum pemikiran kita menunjuk pada bagaimana mencapai tujuan itu secara efektif dan efisien.

Pembelajaran merupakan gabungan dari unsur manusia, fasilitas, peralatan, dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai tujuan pembelajaran (Hamalik, 2006). Tujuan dari proses pembelajaran adalah memungkinkan siswa mencapai kemampuan yang diharapkan. Mudjiono (2000) meyakini bahwa pembelajaran adalah aktivitas guru yang diprogramkan dalam desain pembelajaran, yang bertujuan agar siswa dapat belajar secara aktif dan menekankan pada penyediaan sumber belajar.

Pembelajaran pada hakikatnya adalah upaya untuk mengajar siswa, dan perencanaan pembelajaran adalah pengaturan dari upaya tersebut, dan perilaku belajar muncul. Dalam situasi terstruktur: tujuan dan konten pembelajaran yang jelas, strategi pembelajaran terbaik akan sangat mendorong pembelajaran. Disisi lain, peran seorang pendidik akan semakin kompleks, tidak hanya sebagai sumber belajar, tetapi juga harus menunjukkan kepiawaiannya dalam mengelola sumber belajar lain dan memadukannya ke dalam penampilannya.

Dari pemahaman tersebut dapat dipahami bahwa perencanaan pembelajaran merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh guru dalam proses mempersiapkan pembelajaran agar dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.

Menurut Hamzah B. Uno (2012, p.3) perlunya perencanaan pembelajaran di atas adalah untuk meningkatkan pembelajaran. Upaya penyempurnaan rencana pengelolaan pembelajaran didasarkan pada asumsi-asumsi berikut.

  1. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran perlu diawali dengan perencanaan kurikulum yang dicapai melalui adanya desain pembelajaran.
  2. Pembelajaran desain membutuhkan pendekatan yang sistematis.
  3. Rencana desain pembelajaran mengacu pada bagaimana seseorang belajar
  4. Desain pembelajaran yang direncanakan mengacu pada siswa secara individu.
  5. Pembelajaran yang dilakukan akan mengarah pada terwujudnya tujuan pembelajaran, dalam hal ini akan ada tujuan pembelajaran yang langsung dan tujuan pembelajaran yang menyertainya.
  6. Tujuan akhir dari perencanaan desain instruksional adalah membuat siswa belajar dengan mudah.
  7. Rencana pembelajaran harus memasukkan semua variabel pembelajaran.
  8. Inti dari desain pembelajaran yang dibuat adalah menentukan metode pembelajaran yang terbaik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Untuk mengembangkan perencanaan pembelajaran, menurut Sagala (2011), berbagai prinsip juga harus diperhatikan. 1) Prinsip pengembangan harus memperhatikan bahwa siswa berada dalam proses pengembangan dan terus berkembang. Pemahaman berkaitan dengan usia siswa, tentu siswa senior mampunyai kemampuan lebih tinggi daripada usia dibawahnya. 2) prinsip perbedaan individu menyatakan bahwa setiap siswa memiliki karakteristik dan karakteristik yang berbeda, serta dipengaruhi dan diperlakukan secara berbeda oleh keluarganya masing-masing. Karena pada proses pembelajaran, guru harus memperhatikan dan memberi perhatian individu kepada siswa sesuai dengan situasi mereka untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Dapat di simpulkan bahwa perencanaan pembelajaran dapat dipahami sebagai upaya guru dalam menyusun desain pembelajaran yang meliputi tujuan, bahan ajar, sumber belajar, pendekatan, model, metode, dan penilaian yang akan dijadikan pedoman pembelajaran. Perencanaan pembelajaran sangat penting karena berfungsi sebagai pedoman dan standar untuk mencapai tujuan. Karena perencanaan yang cermat, pembelajaran menjadi terarah dan terukur.

 

B. Karakteristik pembelajaran yang efektif

Sebelum menentukan identifikasi karakteristik pembelajaran yang efektif, sebaiknya kita menyepakati dulu pengertian belajar efektif. Menurut penelitian Miarso (2011), pembelajaran yang efektif merupakan hasil belajar yang bermanfaat dan terarah bagi siswa melalui penggunaan prosedur yang tepat. Definisi tersebut mencakup dua indikator penting yaitu kejadian belajar siswa dan perilaku guru. Oleh karena itu, prosedur pembelajaran yang digunakan oleh guru dan bukti pembelajaran siswa akan menjadi fokus upaya peningkatan efisiensi pembelajaran. Ada tujuh karakteristik yang menunjukkan pembelajaran yang efektif adalah sebagai berikut (Miarso, 2011).

  1. Pengorganisasian pembelajaran dengan baik.
  2. Komunikasi yang efektif.
  3. Penguasaan dan antusiasme dalam materi pelajaran.
  4. Sikap positif terhadap siswa.
  5. Pemberian ujian dan nilai yang adil.
  6. Fleksibilitas dalam pendekatan pembelajaran.
  7. Hasil belajar siswa yang baik.

Perlu diperhatikan bahwa: 1) Beberapa karakteristik lebih muda dari yang lain; 2) Setiap guru memiliki berbagai keunggulan tanpa harus memenuhi semua karakteristik yang diminta; 3) Tidak ada dua guru yang memiliki kemampuan yang sama di semua faktor.

 

1. Pengorganisasian pembelajaran dengan baik

Pengorganisasian pembelajaran dengan baik tercermin dalam penetapan tujuan, pemilihan bahan/topik pembelajaran, kegiatan kelas, tugas dan penilaian. Guru mau mengajar dan memanfaatkan waktu belajar dengan baik, yang juga merupakan ciri organisasi pembelajaran yang baik. Tentunya realisasi pembelajaran yang baik tidak menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan. Kecuali jika perencanaan ditentukan secara fleksibel, seperti membahas perkembangan terkini di masyarakat terkait materi pembelajaran.

Siswa di kelas dapat menilai dengan cukup akurat: 1) apakah guru secara teratur menampilkan materi di kelas; 2) apakah guru sedang mempersiapkan kelas; 3) apakah guru telah menyatakan apa yang perlu dipelajari; 4) apakah pembelajaran diperbolehkan dan dapat diikuti dengan benar.

2. Komunikasi yang efektif

Keterampilan belajar termasuk penggunaan media dan alat audiovisual atau teknologi lain untuk menarik perhatian siswa merupakan ciri-ciri pembelajaran yang baik. Keterampilan komunikasi meliputi tuturan yang jelas, bahasa lisan yang lancar, penjelasan ide-ide abstrak dengan contoh-contoh, ekspresi verbal yang baik dan keterampilan menyimak. Kemampuan berkomunikasi tidak hanya tercermin melalui penjelasan lisan, tetapi juga dalam bentuk karangan tertulis, serta silabus dan rencana pembelajaran yang jelas dan mudah dipahami.

Siswa di kelas dapat menilai dengan sangat akurat: 1) apakah suara guru cukup jelas; 2) apakah guru berkomunikasi dengan percaya diri atau ragu-ragu dan gugup; 3) apakah guru dapat menjelaskan hal-hal abstrak dengan baik dan menggunakan contoh konkret; 4) apakah konten pembelajaran dapat dipahami dengan benar.

3. Penguasaan dan antusiasme dalam materi pelajaran

Seorang guru dituntut untuk mengetahui materi pembelajaran dengan baik, agar dapat diorganisasikan secara sistematis dan logis. Ia harus pula mampu menghubungkan isi pembelajaran denga napa yang telah diketahui siswa, mampu mengaitkan isi pembelajaran dengan perkembangan yang baru dalam disiplin keilmuannya, dan mampu mengambil manfaat dari hasil penelitian yang berkaitan.

Pemilihan buku wajib dan bacaan, penentuan topik pembahasan, pengabstrakan dan pembuatan materi presentasi merupakan karakteristik penguasaan materi pembelajaran. Tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran, poin penguasaan harus dibarengi dengan kemauan dan semangat untuk memberikan penguasaan kepada siswa. Bagi para ahli di bidang pembelajaran, tidak jarang para guru ingin memiliki ilmu profesional sendiri, karena takut mengikuti kompetisi pada poin ini berarti memiliki semangat yang tinggi. Melalui penilaian sejawat pada mata pelajaran yang sama, penguasaan materi pembelajaran tersebut dapat ditentukan dengan baik. Sumber daya eksternal perlu mengundang kata-kata tentang topik tertentu, Konsultan juga dapat mengevaluasi apakah materi kursus dan materi pengantar kelas yang dipilih sudah benar, dan apakah guru yang relevan memiliki kemampuan yang memadai.

Antusiasme siswa terhadap pembelajaran yang diberikan oleh guru dapat dikenali dengan baik, walaupun skala kegiatan ini biasanya tidak jelas dan akan bervariasi sesuai dengan mood siswa itu sendiri.

4. Sikap positif terhadap siswa

Sikap positif terhadap siswa tercermin dari banyak aspek, misalnya: jika siswa mengalami kesulitan dalam materi pembelajaran; apakah guru akan memberikan bantuan; apakah guru mendorong siswa untuk bertanya atau memberikan pendapat; apakah siswa di luar kelas dapat menghubungi guru; dan apakah guru memahami dan peduli tentang apa yang dipelajari siswa. Tentu saja, sikap positif ini dapat diekspresikan dengan berbagai cara tidak peduli di kelas besar atau kecil. Dalam pengajaran kelas kecil sikap ini dapat diungkapkan dengan memperhatikan individu, sedangkan dalam pengajaran kelas besar dapat diberikan kepada kelompok yang menghadapi masalah yang sama.

Beberapa guru percaya bahwa sikap positif terhadap siswa akan merusak mereka. Guru seperti ini percaya bahwa siswa harus berusaha menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapinya, karena hal ini sejalan dengan prinsip belajar mandiri. Setelah upaya siswa sendiri tidak berhasil, yang terbaik adalah membantu mereka. Membantu bukan berarti memecahkan masalah yang dihadapi siswa, tetapi memberikan saran pemecahannya, memberikan semangat, memotivasi motivasi, dll. Meskipun siswa memiliki kesempatan terbesar untuk mengevaluasi sikap dan perilaku guru, perlu diperhatikan bahwa harapan siswa terhadap guru terlalu tinggi. Jika ekspektasinya tidak sesuai, dia bisa menilai sikap gurunya tidak baik.

5. Pemberian ujian dan nilai yang adil

Sejak awal pembelajaran, siswa harus diinformasikan mengenai berbagai jenis penilaian pembelajaran yang akan dilaksanakan, seperti tes formatif, ulangan, proyek, ujian dan soal lainnya yang kesemuanya akan dihitung untuk menentukan nilai akhir. Kesesuaian soal tes dan materi pembelajaran yang diberikan merupakan salah satu tolok ukur kewajaran dalam tes. Sikap konsisten terhadap pencapaian tujuan pembelajaran, upaya siswa untuk mencapai tujuan dan kejujuran siswa juga mencerminkan adanya keadilan. Memberikan umpan balik atas pekerjaan siswa, yang juga merupakan bukti keadilan dalam evaluasi. Kewajaran penilaian tidak berarti bahwa siswa akan diberi nilai A jika tidak mencapai nilai tersebut. Demikian pula evaluasi kinerja siswa terkadang merupakan nilai yang diberikan oleh guru, dan juga dipengaruhi oleh kegembiraan dan ketidakpuasan beberapa siswa. Anda juga dapat menanyakan kepada siswa apa pendapat mereka tentang ketidakberpihakan guru. Tetapi kita juga harus hati-hati, karena siswa tidak selalu bisa objektif.

6. Fleksibilitas dalam pendekatan pembelajaran

Pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh berbagai guru pada umumnya menunjukkan semangat dalam mengajar, yaitu berbagai metode dapat berguna untuk mencapai berbagai tujuan atau mencapai latar belakang dan kemampuan siswa. Misalnya, teknik simulasi dan permainan dapat digunakan untuk mengajarkan analisis komprehensif dan keterampilan berpikir kritis. Media tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kecernaan pembelajaran sehingga membawa manfaat bagi siswa. Dengan memberikan kesempatan yang berbeda kepada siswa dengan kemampuan yang berbeda berarti terdapat pendekatan yang fleksibel.

Kegiatan mengajar harus ditentukan sesuai dengan karakteristik siswa, karakteristik mata pelajaran, dan hambatannya. Karakteristik yang berbeda dan kendala yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Upaya untuk mengadopsi pendekatan fleksibel mungkin tidak berhasil. Kesediaan untuk bereksperimen atau memberikan umpan balik akan menjadi upaya yang baik untuk menghasilkan pendekatan pembelajaran yang baik. Fleksibilitas pendekatan pembelajaran hanya dapat diketahui oleh guru dan siswa terkait yang mengikuti pembelajaran.

Terkadang pendekatan yang digunakan guru tergantung pada situasi, yang harus disesuaikan dengan suasana dan kejadian selama pembelajaran. Memperhatikan sudut pandang dalam situasi tersebut, guru harus memperhatikan suasana dan pendekatan yang digunakan, karakteristik dari perubahan, dan dapatkan hasil.

7. Hasil belajar siswa yang baik

Konten dan pengetahuan yang dipelajari siswa di kelas adalah hasil dari banyak faktor, dan tidak semua faktor berhubungan dengan guru. Misalnya, kemampuan dan motivasi siswa sangat erat kaitannya dengan prestasinya. Beberapa siswa dapat belajar sendiri tanpa harus menghadiri kelas terlebih dahulu. Oleh karena itu, sangat sulit untuk memisahkan hasil dari proses pembelajaran dan pembelajaran. Terlepas dari kesulitan tersebut, ketika mengevaluasi efek pembelajaran, kita harus mempertimbangkan upaya belajar siswa. Hasil belajar dibedakan menjadi tiga bidang/ranah/kawasan yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Proses penentuan jenis dan jenjang tujuan merupakan tugas yang berat. Kriteria yang perlu dipatuhi adalah hasil belajar siswa harus memenuhi tujuan pembelajaran.

 

C. Fungsi, Tujuan, dan manfaat merancang tahapan dalam kegiatan pembelajaran

Menurut Qasim (2016) pada dasarnya merancang tahapan dalam kegiatan pembelajaran biasanya mempunyai dua fungsi utama, yaitu: (1) Adanya rencana pembelajaran, maka pelaksanaan pembelajaran akan efektif. Kuncinya, melalui perencanaan atau persiapan pengajaran, pendidik akan mampu memberikan ilmu dengan baik. Oleh karena itu, ia dapat dengan percaya diri, stabil, dan fleksibel menanggapi situasi di kelas. Pendidik telah membuka jalan untuk mengadopsi perencanaan kegiatan pembelajaran ini, tetapi mereka juga mempertimbangkan rencana pembelajaran alternatif dan kemungkinan lain yang mungkin muncul dalam proses pengajaran. Biasanya pembelajaran tidak selalu berjalan sesuai harapan. Oleh karena itu, pendidik harus mampu merumuskan rencana yang tegas dan luas. (2) Melalui perencanaan yang baik, pendidik akan tumbuh menjadi pendidik yang profesional. Intinya, terlepas dari faktor-faktor ini, pendidik yang baik adalah hasil dari pengalaman yang berkembang atau pembelajaran yang berkelanjutan karena perencanaan yang baik.

Sedangkan menurut Oemar Hamalik (2006), secara umum fungsi merancang tahapan dalam kegiatan pembelajaran adalah 1) Agar pendidik memiliki pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan hubungannya dengan pengajaran untuk mencapai tujuan ini, 2) membantu pendidik mengklarifikasi gagasan mereka tentang kontribusi pengajaran untuk mencapai tujuan pendidikan, 3) meningkatkan keyakinan guru dalam nilai pengajaran dan prosedur yang digunakan, 4) membantu mendidik peserta didik untuk mengenali kebutuhan mereka-kebutuhan siswa, minat siswa dan mendorong motivasi belajar, 5) mengurangi trial and error dalam mengajar dengan mengelola pembelajaran yang lebih baik dan metode yang benar dan menghemat waktu,  6) siswa akan menghormati pendidik yang benar-benar siap atau mau mengajar, 7) memberikan kesempatan kepada pendidik untuk meningkatkan kepribadian dan perkembangannya secara profesional, (8) membantu pendidik merasa percaya diri, dan (9) membantu pendidik pertahankan semangat mereka untuk belajar, dan selalu berikan informasi terbaru kepada siswa.

Merancang tahapan dalam mengajar atau bisa disebut dengan perencanaan pembelajaran merupakan langkah penting menuju sukses. Jika perencanaan pengelolaan pembelajaran disiapkan dengan baik, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif. Perencanaan pembelajaran mempunyai beberapa tujuan. Iniah aspek yang perlu diperhatikan dalam merancang pembelajaran. Semua kegiatan pembelajaran tercapai dengan baik, jika tujuan pembelajaran dijalankan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu, beberapa keuntungan dapat diperoleh melalui tujuan perencanaan pembelajaran sebagai berikut.

  1. Waktu mengajar dapat dialokasikan dan digunakan dengan tepat.
  2. Pokok bahasan bisa berimbang, jadi tidak ada materi pembahasannya terlalu dalam atau terlalu sedikit.
  3. Banyak topik materi yang dapat ditentukan oleh guru, dan sebaliknya disajikan di setiap jam pelajaran.
  4. Guru dapat dengan tepat menentukan urutan dan rangkaian topik materi. Berarti lokasi setiap topik materi memudahkan siswa untuk belajar memahami isi materi pelajaran tersebut.
  5. Guru dapat dengan mudah menentukan dan mempersiapkan strategi pembelajaran paling cocok dan menarik.
  6. Guru juga bisa dengan mudah menyiapkan berbagai peralatan bahan yang digunakan untuk tujuan pembelajaran dalam keperluan belajar.
  7. Guru dapat dengan mudah mengukur keberhasilan siswa dalam belajar.
  8. Guru dapat menjamin bahwa hasil belajar mereka lebih baik daripada mereka yang tidak memiliki tujuan yang jelas.

Menurut Yamin and Ansari (2009:123) perencanaan pembelajaran memiliki beberapa manfaat sebagai berikut.

  1. Perencanaan pembelajaran dapat digunakan sebagai alat untuk menemukan dan memecahkan masalah.
  2. Rencana pembelajaran dapat memandu proses pembelajaran.
  3. Perencanaan pembelajaran dapat digunakan sebagai dasar untuk menggunakan sumber daya secara efektif.
  4. Perencanaan pembelajaran dapat digunakan sebagai alat untuk memprediksi hasil yang akan dicapai.

Oleh karena itu, menurut definisi di atas, perencanaan pembelajaran yang akan direncanakan memerlukan teori yang akan dirancang agar perencanaan pembelajaran yang disusun dapat benar-benar memenuhi harapan dan tujuan pembelajaran. Dalam hal ini perencanaan pengelolaan pembelajaran merupakan disiplin ilmu yang didedikasikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggunakan teori pembelajaran deskriptif, sedangkan desain pembelajaran didasarkan pada teori pembelajaran deskriptif untuk mencapai tujuan yang sama.

Dapat disimpulkan bahwa dalam merancang tahapan kegiatan pembelajaran atau bisa disebut dengan perencanaan pembelajaran harus mempunyai fungsi, tujuan, dan manfaat yang jelas serta harus dipersiapkan dengan baik. Maka pelaksanaan pembelajaran akan efektif, tujuan pembelajaran tercapai dan rencana pembelajaran dapat dipakai sebagai pemandu proses pembelajaran.

 

D. Tahapan mengajar

Tahapan mengajar merupakan salah satu kemampuan mengajar yang mutlak harus dipahami, dikuasai, dikembangkan, diperdalam, dipersiapkan dan diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas. Pemahaman yang baik terhadap semua aspek dari tahapan pengajaran yaitu tahapan pra-pengajaran, pengajaran dan pasca-pengajaran, dapat mencegah terjadinya kendala atau kegagalan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh guru. Selain itu, pemahaman yang mendalam tentang masalah ini juga dapat menyampaikan tema tersebut kepada siswa secara maksimal.

Menurut Habibati (2017) pada saat guru mengajar di kelas, mereka harus melaksanakan tiga tahap pengajaran, yaitu tahap pra mengajar/pra instruksional, tahap mengajar/instruksional, dan tahap akhir/penutup (tahap penilaian dan tindak lanjut). Pembelajaran dan pelaksanaan ketiga tahap tersebut adalah sebagai berikut.

​​​​​​​​​​​​​​1. Tahapan pra instruksional

Pada tahap ini juga disebut dengan kegiatan pendahuluan/kegiatan awal/tahap awal proses pengajaran. Tahapan ini bertujuan untuk membekali siswa dengan persiapan psikologis agar dapat fokus mengikuti keseluruhan proses pembelajaran, sehingga membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. Pada tahap ini kegiatan guru meliputi sebagai berikut.

  1. Mengucapkan salam pembuka, memberikan sapaan, dan berdo’a.
  2. Memeriksa kehadiran siswa/mengabsen siswa (bertanya siapa yang tidak hadir)
  3. Mereview kembali materi pelajaran pada pertemuan sebeumnya.
  4. Mengaitkan materi pelajaran yang akan dibahas dengan materi sebelumnya (melakukan apersepsi). Hal ini dapat dilakukan dengan bertanya kepada siswa apakah masih ingat dengan materi sebelumnya.
  5. Memberikan motivasi belajar terkait materi yang akan disampaikan.
  6. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
  7. Menyampaikan topik materi yang akan dipelajari.
  8. Memberikan kuis/pretest kepada siswa sebelum pembelajaran dimulai (tidak wajib/sesuai kebutuhan)

Dalam melakukan kegiatan di atas, guru perlu memperhatikan bahwa guru tidak selalu harus melakukan semua kegiatan dalam satu kali pertemuan di dalam kelas. Bergantung pada kebutuhan, situasi dan suasana kelas, beberapa kegiatan opsional dapat dilakukan, seperti melakukan kuis/pre-test, menanyakan diskusi sebelumnya, mereview materi pelajaran secara singkat dan menyeluruh.

​​​​​​​2. Tahapan instruksional

Kegiatan inti atau tahapan penyampaian bahan ajar adalah proses pembelajaran memperoleh kemampuan, yang dilakukan secara interaktif, menginspirasi, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, dan memberikan ruang yang cukup sesuai dengan motivasi belajarnya. kreativitas dan kemandirian. Bakat, minat, serta perkembangan fisik dan mental siswa.

Kegiatan inti menggunakan metode ilmiah yang dikhususkan pada mata pelajaran dan karakteristik siswa. Guru dapat membantu siswa mengamati, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan informasi, bernalar, dan berkomunikasi. Dalam setiap kegiatan, guru harus memperhatikan pengembangan sikap siswa terhadap kompetensi inti 1 dan kompetensi inti 2, diantaranya puji syukur kepada Allah SWT atas anugerah, kejujuran, ketelitian, kerjasama, toleransi, disiplin, penghormatan terhadap silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. RPP) mencantumkan pendapat dan tanggung jawab orang lain. Pada tahap ini juga akan dijelaskan pendekatan, model dan metode pembelajaran yang digunakan selama masa pembelajaran.

​​​​​​​3. Kegiatan penutup

Kegiatan ini disebut juga kegiatan tindak lanjut/kegiatan akhir. Sebagai penutup, guru dan siswa hendaknya melakukan sebagai berikut.

  1. Tanyakan kepada kelas atau siswa tentang semua atau sebagian dari topik yang dibahas.
  2. Beri kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang belum dipahami atau tidak jelas.
  3. Meringkas atau menyimpulkan materi pelajaran.
  4. Perkuat jawaban atas pertanyaan atau kesimpulan yang diberikan siswa.
  5. Merefleksikan kegiatan yang telah dilaksanakan.
  6. Memberikan umpan balik tentang proses dan hasil pembelajaran.
  7. Mengevaluasi hasil belajar.
  8. Rencanakan tindak lanjut (studi bimbingan belajar, rencana pengayaan, layanan konsultasi).
  9. Menugaskan pekerjaan individu dan kelompok (dalam bentuk pekerjaan terstruktur dan kegiatan tugas independen terstruktur).
  10. Menyerahkan rencana pelajaran (topik) untuk dibahas pada pertemuan berikutnya.
  11. Berdoa dan akhiri dengan salam.

Ketiga tahapan di atas merupakan rangkaian aktivitas tak terpisahkan yang saling mendukung. Tahapan tersebut membutuhkan keterampilan profesional guru, terutama dalam hal pencapaian strategi pengajaran terbaik untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

 

E. Simpulan

  1. Merancang kegiatan pembelajaran ada beberapa unsur-unsur yang perlu diperhatikan: merumuskan tujuan, pemilihan sumber belajar, pemilihan dan pengorganisasian materi ajar, mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok, menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan, menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan, skenario/kegiatan pembelajaran, dan penilaian.Perencanaan pembelajaran dapat dipahami sebagai upaya guru dalam menyusun desain pembelajaran yang meliputi tujuan, bahan ajar, sumber belajar, pendekatan, model, metode, dan penilaian yang akan dijadikan pedoman pembelajaran. Perencanaan pembelajaran sangat penting karena berfungsi sebagai pedoman dan standar untuk mencapai tujuan. Karena perencanaan yang cermat, pembelajaran menjadi terarah dan terukur.
  2. Efektivitas dan bobot rencana pembelajaran dapat dilihat. Jika bisa mendapatkan pendapat dari diri sendiri, siswa, observasi kelas, pimpinan, pengkajian rencana pembelajaran, dan hasil belajar siswa, maka keefektifan pembelajaran ini akan diketahui dengan baik. Perlu upaya terus menerus untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai jalur.
  3. Merancang tahapan kegiatan pembelajaran atau bisa disebut dengan perencanaan pembelajaran harus mempunyai fungsi, tujuan, dan manfaat yang jelas serta harus dipersiapkan dengan baik. Maka pelaksanaan pembelajaran akan efektif, tujuan pembelajaran tercapai dan rencana pembelajaran dapat dipakai sebagai pemandu proses pembelajaran. Guru mengajar di kelas, mereka harus melaksanakan tiga tahap pengajaran, yaitu tahap pra mengajar/pra instruksional, tahap mengajar/instruksional, dan tahap akhir/penutup (tahap penilaian dan tindak lanjut).

 

​​​​​​​Daftar Pustaka

Habibati (2017) Strategi belajar mengajar. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press.

Hamalik, O. (2006) “Proses belajar mengajar,” in. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Manurung, S. (2017) Merancang kegiatan pembelajaran. Available at: repository.uhn.ac.id (Accessed: February 15, 2021).

Miarso, Y. (2011) Menyemai benih teknologi pendidikan. Ke dua. Jakarta: Pustekom DIKNAS.

Mudjiono (2000) Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Nasution, W. N. (2017) “Perencanaan pembelajaran pengertian, tujuan dan prosedur,” ITTIHAD, 1(2).

Qasim, M. (2016) “Perencanaan Pengajaran dalam Kegiatan Pembelajaan,” Jurnal Diskursus Islam, 4(3).

Sagala, S. (2011) Konsep dan makna pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Sanjaya, W. (2012) Strategi pembelajaran: Berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Uno, H. B. (2012) Perencanaan pembelajaran. edisi 3. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Yamin, M. and Ansari, B. I. (2009) Taktik mengembangkan kemampuan individual siswa. Jakarta: Gaung Persada Press.

 

Sumber: https://cafe-idea.com/node/36