ABDIMAS UNTUK NEGERI Implementasi Kinerja Dosen dalam Bentuk Pengabdian di Masyarakat

TERBITNYA Buku Bunga Rampai hasil pengabdian kepada masyarakat yang hadir di hadapan pembaca ini cukup strategis. Posisi perguruan tinggi sering diidentikkan sebagai “Menara Gading” yang selalu mengawang-awang dan melangit. Hasil pemikiran di perguruan tinggi sering tidak bisa diimplementasikan dalam kehidupan grassroot. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukann oleh perguruan tinggi sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat dianggap sebagai upaya membumikan perguruan tinggi kepada masyarakat secara luas.


Revolusi industri 4.0 melahirkan beragam kekhawatiran berbagai pihak terkait penurunan jumlah pekerjaan dan akan muncul pengangguran karena tenaga manusia akan tergantikan oleh mesin. Sebagai pengantar, revolusi industri 4.0 bukan hanya fokus pada pengembangan robot sebagai alat produksi secara masif. Terdapat banyak teknologi lain yang berkembang pada revolusi industri keempat ini, seperti pemanfaatan big data dalam pembuatan produk dan jasa, penggunaan Internet of Things (IoT), dan menghubungkan mesin dan Artificial Intelligent (AI) untuk mengerjakan berbagai hal yang sulit dan berbahaya bagi manusia.


Revolusi industri telah berkembang pesat dari revolusi pertama hingga keempat. Revolusi industri pertama ditandai  dengan ditemukannya mesin uap sebagai alat untuk produksi massal pertama. Sebelumnya masyarakat di Eropa memiliki aktivitas harian berupa bertani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ditemukannya mesin uap menyebabkan terjadinya industrialisasi dan perubahan pekerjaan. 

Revolusi industri kedua terjadi dengan ditemukannya listrik dan selanjutnya revolusi industri ketiga terjadi ketika manusia mulai menggunakan komputer. Ketiga revolusi industri tersebut selalu diikuti dengan perubahan teknologi yang digunakan dalam industri, pergantian pekerjaan, pengurangan pekerjaan di bidang-bidang tertentu dan sering kali merupakan pekerjaan yang dominan sebelumnya.


Selain itu, ada pula masalah yang sama-sama ditimbulkan oleh ketiga revolusi industri tersebut, yaitu kesenjangan sosial. Teknologi yang berkembang mengakibatkan perubahan kebutuhan tenaga kerja dan permintaan akan teknologi yang lebih canggih. Kesenjangan sosial pun terjadi karena revolusi industri mengakibatkan beberapa kelompok orang tidak mampu bersaing mengikuti perubahan. Serta tidak mampu mengakses informasi, pendidikan, dan teknologi yang sedang berkembang.

Kesenjangan ekonomi pada tiap revolusi industri terjadi karena beberapa hal, salah satunya karena kesenjangan pendidikan. Adanya perbedaan antara kebutuhan industri dengan pendidikan yang didapatkan. Hal ini terkait dengan akses pendidikan yang mendasar, pendidikan yang berkaitan dengan keahlian, hingga materi pendidikan yang diberikan belum sesuai dengan kebutuhan industri. Akibatnya, terdapat sumber daya manusia yang tidak mampu bersaing di industri dan berakhir menjadi tenaga kerja dengan kemampuan mendasar dan diupah minimal. Revolusi industri keempat yang sedang terjadi juga menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak. Seperti adanya pengurangan tenaga kerja dan pergantian pekerjaan pada revolusi industri sebelumnya, pada revolusi industri 4.0 hal tersebut juga menjadi kekhawatiran utama. 


Saat ini kesenjangan akses teknologi di Indonesia sudah terlihat dan menjadi salah satu kendala dalam persaingan industri 4.0 di Indonesia. Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2017 penetrasi pengguna internet di Indonesia sekitar 54,68% atau sebanyak 143,26 juta jiwa dari total 262 juta penduduk Indonesia. Dapat dilihat bahwa sebenarnya masih banyak masyarakat di Indonesia yang belum mengakses internet.

Dalam mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi di Indonesia, dibutuhkan kebijakan yang strategi dan program
yang efektif. Selain itu, masyarakat selaku kelompok terdampak dari program dan mengalami masalah ekonomi akibat adanya kesenjangan menjadi aktor utama. Berbagai program dan kebijakan yang ada perlu memperhatikan kebutuhan dan kondisi masyarakat sebagai kelompok sasaran.


Terdapat Indeks Pembangunan Manusia atau IPM untuk mengukur sejauh mana kualitas sumber daya manusia suatu
negara. Indonesia sendiri berada pada kondisi IPM sedang. Seiring berjalannya waktu, kesenjangan IPM di berbagai daerah terus berkurang karena terjadi peningkatan IPM di berbagai daerah di Indonesia. Terutama di wilayah Papua, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Barat, masing-masing daerah tersebut mengalami peningkatan IPM sebanyak 1,4%, 1,2%, dan 1,1% dari tahun 2015 ke tahun 2018.


Peluang untuk mengurangi kesenjangan lainnya yaitu masifnya pembangunan infrastruktur berbagai wilayah di Indonesia. Kebijakan pemerintah Presiden Joko Widodo saat ini fokus pada pembangunan infrastruktur transportasi dan komunikasi di wilayah timur Indonesia.


Salah satu faktor terjadinya kesenjangan yaitu sulitnya akses transportasi, teknologi, dan informasi di luar pulau Jawa. Oleh karena itu, kebijakan tersebut menjadi sebuah peluang untuk membuka akses dan memberikan kesempatan secara merata dalam proses pengembangan masyarakat. Serta memberikan peluang bagi pengembangan industri besar, menengah, dan kecil di berbagai daerah. Hal tersebut sangat penting agar kegiatan ekonomi tidak berpusat di Pulau Jawa saja dan masyarakat di berbagai wilayah dapat ikut berkembang juga.


Saat ini teknologi 4.0 telah mulai digunakan dalam berbagai industri jasa dan produksi seperti transportasi, e-commerce, fashion, makanan dan minuman, dan lainnya. Penggunaan teknologi 4.0 tersebut seperti big data, artificial intelligent, robot, Internet of Things, dan lainnya.


Revolusi industri 4.0 berkembang dan menimbulkan disrupsi di sektor ekonomi. Disrupsi merupakan fenomena bisnis yang telah mapan akan bersaing dengan berbagai industri kecil yang muncul sehingga memaksa industri yang telah mapan untuk mengubah struktur hingga budaya bisnisnya. Disrupsi mengharuskan industri besar untuk mengikuti perkembangan pasar dan memenuhi kebutuhan masyarakat saat itu, bahkan mengakibatkan mereka harus berubah drastis atau akan kalah bersaing dengan industri yang lebih kecil.


Paradigma industri pun berubah dari owning menjadi sharing. Selama ini sebuah industri dikuasai atau dikelola oleh
satu perusahaan saja. Akan tetapi perubahan dan terjadinya revolusi industri 4.0 membuat hal tersebut berubah, yaitu
semakin banyak orang dan kelompok yang dapat terlibat dari hulu hingga hilir industri. Revolusi industri 4.0 membuat hal tersebut berubah, yaitu semakin banyak orang dan kelompok yang dapat terlibat dari hulu hingga hilir industri.


Contoh dari kondisi tersebut yaitu semakin banyak toko retail yang tutup dan tergantikan dengan e-commerce. Dalam e-commerce tersebut melibatkan banyak pedagang, terutama pelaku usaha kecil dan menengah dapat bersaing dan berkembang dengan pesat. 

Penggunaan teknologi 4.0 bukan hanya dilakukan oleh industri saja. Akan tetapi bermunculan berbagai social entrepreneur yang menggunakan teknologi 4.0 dalam pengembangannya. Seperti E-Fishery yang menggunakan teknologi real time untuk usaha perikanan. Serta ada pula berbagai platform pendanaan untuk usaha kecil dan menengah seperti Gandeng Tangan dan Legal Modalku.

Pengabdian kepada Masyarakat sebagaimana tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, memiliki tujuan, pertama,
untuk menciptakan inovasi teknologi untuk mendorong pembangunan ekonomi Indonesia dengan melakukan
komersialisasi hasil penelitian. Kedua, memberikan solusi berdasarkan kajian akademik atas kebutuhan, tantangan,
atau persoalan yang dihadapi baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga, melakukan kegiatan yang mampu
mengentaskan masyarakat tersisih (preferential option for the ploor) pada semua strata, yaitu masyarakat yang termarjinalkan secara ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Keempat, melakukan alih teknologi ilmu dan seni, kepada masyarakat untuk pengembangan martabat manusia dan kelestarian sumber daya alam.

 

 

 

Link Buku ABDIMAS UNTUK NEGERI