Media Pembelajaran

Apa itu media

Media adalah merupakan teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan proses pembelajaran (Rusman, 2017b). Media merupakan alat peraga yang menyajikan pesan dan informasi tentang fakta, konsep, prosedur, dan prinsip sesuai dengan pokok bahasannya. Media ada yang by utilization (dimanfaatkan) oleh guru dalam kegiatan pembelajaran, artinya media tersebut diproduksi oleh pihak tertentu dan guru tinggal by use (menggunakannya) secara langsung dalam kegiatan pembelajaran, begitu juga media bersifat alamiah yang tersedia di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat.  Selain itu guru juga dapat mendesain dan membuat medianya sendiri (by design) sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.

Media adalah bentuk jamak dari perantara (“medium”), dan merupakan sarana komunikasi. Berasal dari bahasa latin medium (“antara”), istilah ini mengacu pada segala sesuatu yang membawa informasi antara sumber dan penerima (Smaldino et al., 2004). Media merupakan pengantar pesan dari pengirim ke penerima, oleh karena itu media disebut sebagai sarana penyampaian informasi belajar atau penyampaian pesan. Media salah satu alat komunikasi dalam menyampaikan pesan, jika diimplementasikan kedalam proses pembelajaran pastinya akan sangat bermanfaat, media yang digunakan dalam proses pembelajaran disebut dengan media pembelajaran. Menurut Heinich, dkk media pembelajaran adalah: batasan medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima (Halliday, 2000). Jadi film, televisi, rekaman audio, foto, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan, dan sejenisnya adalah media komunikasi. Jika media merupakan pembawa pesan atau informasi yang diperuntukkan bagi pembelajaran, maka media tersebut dinamakan media pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaaran adalah jembatan berpikir dan bertindak bagi siswa, serta sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Enam kategori dasar media adalah teks, audio, visual, video, manipulative (perekayasa benda-benda), dan orang. Tujuan media adalah untuk memudahkan komunikasi dan belajar (Smaldino, Lowther and Mims, 2019). Berikut penjelasan dari masing-masing kategori (gambar 1.1). Media yang paling umum digunakan adalah teks. Teks adalah karakter alfanumerik dan dapat ditampilkan dalam format apapun, seperti buku, poster, papan tulis, layar komputer, dan lain sebagainya. Media lain yang biasa digunakan dalam pembelajaran adalah audio. Audio mencakup semua suara yang dapat didengar, seperti orang, music, suara mekanis (deru mesin mobil), kebisingan, dan lain-lain. Suara itu dapat didengar atau direkam dengan segera. Visual adalah kategori yang biasanya digunakan untuk memperjelas materi seperti diagram dan gambar di poster, gambar di papan tulis putih, gambar di buku, foto, kartun, dan lain sebagainya. Jenis media lainya adalah video. Video adalah salah satu jenis media yang menampilkan gambar dan tindakan seperti animasi komputer, rekaman video, dan lain sebainya. Perekayasa bersifat tiga dimensi yang dapat disentuh dan dipegang oleh siswa. Kategori dasar media keenam dan terakhir adalah orang-orang, yang dapat berupa berupa guru, siswa, atau ahli di bidangnya masing-masing. Orang sangat penting bagi pembelajaran, karena mereka adalah sumber informasi. Siswa belajar dari guru, siswa lainnya, dan orang dewasa.

Image removed.

Media adalah kategori yang sangat luas: teks, audio, visual, video, perekayasa, dan orang. Dalam setiap kategori terdapat banyak jenis format media. Format media merupakan bentuk fisik yang memuat dan menampilkan pesan. Misalnya papan tulis penanda (visual dan teks), slide powerpoint (teks dan visual), CD (suara dan musik), DVD (video), dan multimedia komputer (audio, teks, dan video). Dalam hal jenis pesan yang dapat direkam dan ditampilkan, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda (Smaldino, Lowther and Mims, 2019). Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan termasuk banyaknya media dan teknologi yang tersedia, keragaman pembelajar, dan banyak tujuan yang ingin dicapai.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pemilihan format media, situasi atau lingkungan belajar (misal kelompok besar, kelompok kecil, atau pembelajaran mandiri), variabel pembelajar (misal pembaca, tidak ada pembaca, atau yang suka mendengarkan), dan sifat tujuannya (misal kognitif, afektif, kemampuan motorik, atau antarpersonal) harus diperhatikan. Penting juga untuk memperhatikan kemampuan penyajikan dari setiap format media (misal gambar diam, gambar bergerak, teks cetak, atau teks audio).

Selain itu menurut Kemp and Dayton (dalam Daryanto, 2013), kontribusi media pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) pembelajaran menjadi lebih menarik, 2) waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek, 3) kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan, 4) penyampaian informasi pembelajaran dapat lebih terstandar, 5) pembelajaran dapat diubah lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar, 6) peran guru positif,  7) sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran dan proses pembelajaran dapat ditingkatkan, 8) proses pembelajaran dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun.

     

Apa itu pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan. Komponen-komponen ini meliputi: tujuan pembelajaran, sumber belajar, media pembelajaran, strategi pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Guru harus memperhatikan lima komponen pembelajaran ketika memilih dan menentukan media, metode, strategi, dan pendekatan mana yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran (Rusman, 2017a). Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses interaksi antara guru dan siswa, dapat berupa interaksi langsung, seperti kegiatan tatap muka, atau interaksi tidak langsung, yaitu melalui penggunaan berbagai media pembelajaran.

Menurut Warsita (2008) pembelajaran adalah suatu bentuk upaya membuat peserta didik belajar, atau suatu kegiatan membelajarkan peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan upaya menciptakan kondisi agar kegiatan pembelajaran terjadi. Pembelajaran itu menunjukkan upaya peserta didik untuk mempelajari materi dengan bantuan guru. sebagai akibat perlakuan guru. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran merupakan proses dasar dari pendidikan, dari situ ditentukan ruang lingkup terkecil minimal apakah bidang pendidikan berfungsi dengan baik.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan masyarakat yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai positif melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar. Pembelajaran dapat melibatkan dua pihak siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai fasilitator. Hal terpenting dalam kegiatan pembelajaran adalah proses pembelajaran (learning process) (Rusman, 2017b).

 

Terwujudnya pembelajaran merupakan hasil integrasi dari beberapa komponen dengan fungsinya masing-masing untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ciri utama dari kegiatan pembelajaran adalah interaksi. Interaksi yang terjadi antara siswa dengan lingkungan belajarnya, baik itu interaksi dengan guru, teman, media pembelajaran, dan/atau sumber belajar yang lainnya. Adapun ciri lainnya adalah komponen-komponen pembelajaran itu sendiri antara lain tujuan, sumber belajar, media, strategi, dan evaluasi pembelajaran. Dalam hubungan antar berbagai komponen pembelajaran, masing-masing komponen tersebut membentuk sebuah integritas atau suatu kelengkapan atau keseluruhan. Tempat dimana setiap komponen berinteraksi satu sama lain adalah interaksi aktif dan pengaruh timbal balik. Misalnya, mengidentifikasi materi pembelajaran yang mengacu pada tujuan yang telah ditentukan dan cara penyampaian materi akan menggunakan strategi dan media pendukung.     

Penjelasan komponen pembelajaran di atas adalah sebagai berikut (Rusman, 2017a).

  1. Tujuan, maksud tujuan pendidikan itu sendiri adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Dengan kata lain pendidikan merupakan peran sentral dalam upaya mengembangkan sumber daya manusia.
  2. Sumber belajar, selama dapat digunakan untuk memudahkan terjadinya proses belajar pada diri sendiri atau peserta didik, apapun bentuknya, apapun bendanya, asal bisa digunakan untuk memudahkan proses belajar, dan bisa dikatakan sebagai sumber belajar.  
  3. Media pembelajaran, merupakan jembatan berpikir dan bertindak bagi siswa, serta sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran atau pembawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan pembelajaran.
  4. Strategi pembelajaran, merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang harus diselesaikan oleh guru dan siswa agar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
  5. Evaluasi pembelajaran, merupakan proses penentuan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara sistematis. Evaluasi bukan hanya sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan incidental, melinkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan tujuan yang jelas.  

Sebagai seorang pengajar setelah memahami kegiatan proses pembelajaran dan hubungan antara komponen pembelajaran, perlu juga memahami pola pembelajaran menurut Barry Morris (dalam Riyana, 2019) pola pembelajaran dibedakan menjadi empat pola pembelajaran yaitu: 1) pola pembelajaran tradisional 1; 2) pola pembelajaran tradisional 2; 3) pola pembelajaran guru dan media; 4) pola pembelajaran bermedia.

Pola pembelajaran tradisional 1 ini menekankan bahwa guru bertanggung jawab penuh atas respon dari keseluruhan proses pembelajaran. Guru berperan sebagai narasumber, dan dapat langsung berkomunikasi dengan siswa dalam bahasa verbal tanpa alat bantu. Misalnya guru berceramah sepanjang jam dan menyampaikan topik pembelajaran yang dia pahami tanpa melibatkan berbagai bahan dan alat pembelajaran. Pola ini juga sering disebut dengan istilah ekspositorik, yaitu kegiatan pembelajaran yang mengekspos satu arah.

Pola pembelajaran tradisional 2 ini menekankan pada peran guru dalam kegiatan pembelajaran melalui media atau alat bantu untuk membantu penyampaian isi atau materi pembelajaran. Secara tidak langsung mengurangi masalah verbalisme yang merupakan kekurangan saat menggunakan pola pembelajaran tradisional 1. Misalnya guru menjelaskan materi tentang proses fotosintesis dengan bantuan LCD proyektor untuk peragaanya. Dalam pembelajaran semacam ini pengendalian pembelajaran masih sepenuhnya oleh guru. Oleh karena itu, penggunaan slide presentasi melalui LCD proyektor dapat membantu memperjelas informasi substantif sehingga siswa dapat dengan mudah memahaminya.

Pola pembelajaran guru dan media ini terjadi karena adanya perubahan peran guru dalam kegiatan pembelajaran. Guru dan media memiliki peran yang sama dalam memenuhi fungsi penyampaian konten pembelajaran. Dalam pola ini, desain media harus dapat mendeskripsikan material dengan baik, lengkap, dan utuh.  Media telah mengedepankan peran guru dalam kegiatan pembelajaran, siswa masih dapat belajar melalui materi pembelajaran pada media tersebut, namun tentu jika ingin lebih jelas perlu menambahkan penjelasan langsung dari guru. Misalnya guru mengajarkan konsep fotosistesis pada tumbuhan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disiapkan, kemudian mulai mengajar dengan salam, menyampaikan tujuan, mengapersepsi, dan menghubungkan materi masa lalu dengan konten yang akan disampaikan. Saat menjelaskan topik materi, guru akan memutar video animasi yang menjelaskan konsep fotosintesis. Video tersebut dikemas dalam format animasi, dengan suara narasi yang memandu penjelasan materi secara jelas dari awal sampai akhir. Selama video diputar guru akan menyimak. Setelah video selesai, guru meminta siswa untuk bertanya tentang materi yang kurang jelas. Guru tidak perlu menjelaskan materi secara detail lagi. Guru dan media memiliki peran yang sama. Pola ini biasa disebut dengan teaching aids (alat peraga), dan merupakan pembelajaran tambahan melalui media pembelajaran terkait, khususnya media berbasis multimedia.

Pola pembelajaran bermedia ini menekankan pada peran media sebagai sumber informasi utama dalam kegiatan pembelajaran. Dalam pola ini, guru akan mendapatkan penekanan lebih untuk memfasilitasi dan membantu siswa mendapatkan informasi yang benar. Pada pola ini, bagian yang tidak terlihat jelas adalah guru. Mengapa demikian? Pola ini memberikan media dengan fleksibilitas yang lebih besar, memungkinkan untuk berinteraksi langsung dengan siswa, sedangkan guru adalah fasilitator dan evaluator pembelajaran. Pola ini biasanya dikaitkan dengan pembelajaran online. Misalnya model pembelajaran  e-learning yang telah disiapkan dimulai dengan materi, tugas, diskusi, dan latihan soal dengan jumlah pertemuan yang diinginkan. 

 

Bagaimana media pembelajaran di perguruan tinggi

Menurut Confucius (dalam Silberman, 2009) yang saya dengar, saya lupa; yang saya dengar, lihat, saya ingat; yang saya dengar, lihat, tanyakan dan kerjakan, saya pahami. Ada apa dengan pernyataan tersebut. Kalimat apa itu?. Orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar karena berbagai alasan. Salah satu alasan paling menarik terkait dengan kecepatan guru berbicara dan kecepatan mendengarkan siswa. Siswa mungkin tidak dapat berkonsentrasi karena walaupun materinya menarik, tidak mudah untuk berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Penelitian telah menunjukkan bahwa siswa dapat mendengarkan dengan kecepatan 400 hingga 500 kata per menit (tanpa berpikir). Ketika mendengarkan guru terlalu lambat dalam waktu yang lama, siswa cenderung bosan dan pikiran melayang.

Dalam penelitian di perguruan tinggi, perkuliahan bergaya ceramah, mahasiswa kurang memperhatikan 40% dari keseluruhan waktu perkuliahan (Pollio, 1984). Dalam sepuluh menit pertama kuliah, mahasiswa dapat mengingat 70%, sedangkan dalam sepuluh menit terakhir, mereka hanya dapat mengingat 20% materi kuliah (Vella, 1988). Tidak mengherankan, mahasiswa yang mengikuti perkuliahan psikologi gaya ceramah hanya memiliki pengetahuan 8% lebih banyak dari pada yang tidak berpartisipasi dalam perkuliahan sama sekali (Rickard et al., 1988). Bayangkan apa yang anda dapatkan dengan memberi kuliah di perguruan tinggi atau di universitas dengan cara ini.

Dua tokoh terkenal dalam gerakan pendidikan kooperatif David, dan Roger Johnson, Bersama Karl Smith, mengajukan beberapa pertanyaan tentang pengajaran jangka panjang (Johnson D. W., 1991) sebagai berikut. 1) gaya ceramah ini hanya menarik peserta didik auditori, 2) perhatian mahasiswa menurun dengan berlalunya waktu, 3) metode ini sering menyebabkan pemahaman yang kurang tentang informasi aktual, 4) metode ini mengasumsikan bahwa mahasiswa membutuhkan informasi yang sama dengan langkah penyampaian yang sama pula, dan 5) mahasiswa cenderung tidak menyukainya.

 Dari paparan kalimat diatas akhirnya terdapat pertanyaan mengapa harus dibutuhkan media di dalam proses pembelajaran?. Untuk mengatasi sesuatu tidak mungkin secara langsung di dalam kelas tentang sesuatu objek, karena a) terlalu besar; b) terlalu kecil; c) bergerak terlalu lambat; d) bergerak  terlalu cepat; e) terlalu kompleks, abstrak; f) bunyinya terlalu halus; g) berbahaya dan resiko tinggi. Dengan menambahkan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar, ingatan akan meningkat dari 14% hingga 38% (Pollio, 1984). Penelitian ini juga menunjukkan adanya peningkatan hingga 200% ketika digunakan media pembelajaran.

Oleh karena proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi penting sebagai salah satu komponen pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak bisa menjadi yang terbaik. Posisi media pembelajaran sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem pembelajaran. 

Setelah kita tahu posisi media dalam pembelajaran dan posisi media dalam komunikasi pembelajaran, maka kita juga perlu memahami keterkaitan antara alat peraga, media pembelajaran, sumber belajar, dan bahan ajar agar tidak salah paham. Pertama alat peraga, Kata “alat peraga” diperoleh dari dua kata alat dan peraga. Kata utamanya adalah peraga (display) yang artinya bertugas “meragakan” atau membuat bentuk “raga (body)” atau bentuk “fisik” dari suatu arti/pengertian yang dijelaskan. Bentuk fisik dapat berupa benda nyata, atau benda buatan manusia berupa model atau gambar/visual/audio visual. Misalnya, alat peraga yang digunakan untuk memajang binatang itu sendiri, patung binatang atau gambar binatang. Oleh karena itu alat peraga juga merupalan alat untuk menampilkan objek nyata, imitasi/model atau gambar visual/audio visualnya. Jika alat peraga merupakan bahan ajar yang dirancang untuk digunakan sebagai bahan ajar, alat peraga dapat dimasukkan sebagai bahan ajar. Sebagai contoh kongkret, pengajar membawa alat peraga berupa globe dan menggunakan semua penjelasannya untuk menjelaskan bentuk bumi.

Kedua media pembelajaran, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya media pembelajaran tersebut merupakan segala bentuk perantara atau pengantar pesan dalam proses komunikasi. Misalnya, globe merupakan perantara yang mengirim informasi tentang bumi, garis lintang dan bujur, serta pembagian waktu di dunia. Oleh karena itu perbedaan antara alat peraga dan media terletak pada fungsi objeknya. Objek yang sama dapat memainkan peran yang berbeda, karena guru memfungsikan berbeda dalam pembelajaran. Misalnya ketika seorang guru menggunakan alat komunikasi yang disebut televisi untuk memperagakan, televisi dapat digunakan sebagai alat peraga. Akan tetapi televisi juga dapat dikatakan sebagai salah satu media, yaitu apabila televisi tersebut mengantarkan/menyampaikan banyak informasi pendidikan dan memanfaatkannya sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Ketiga sumber belajar merupakan tempat yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi/pesan/materi pelajaran. Sumber belajar dapat diperoleh dari semua benda disekitar peserta didik yang sedang belajar. Sumber belajar dapat berupa manusia dan benda lain bukan manusia. Adapaun cara memperoleh sumber belajar, dapat melalui sumber belajar yang tinggal dimanfaatkan (by utilization) dan juga sumber belajar yang dirancang (by design). Misal buku modul merupakan sumber belajar yang dirancang (by design) dan buku teks merupakan sumber belajar yang dimanfaatkan (by utilization) dalam pembelajaran. Modul juga dapat dikatakan sebagai bahan ajar, karena modul (sebagai sumber belajar) itu dirancang sebagai bahan ajar yang harus dipelajari oleh peserta didik dalam proses pembelajaran. Keempat bahan ajar adalah suatu bahan/materi pelajaran yang disusun secara sistematis, pengajar dan peserta didik menggunakannya dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan.  

Pada prinsipnya walaupun alat peraga, media pembelajaran, sumber belajar, dan bahan ajar, dapat sama, namun terdapat perbedaan fungsi dan hubungan erat diantara keempatnya. Ilustrasi berikut akan membantu anda memahami hubungan antara alat peraga, media pembelajaran, sumber belajar, dan bahan ajar. Modul pembelajaran yang dirancang dengan baik atau bahan ajar cetak telah disiapkan untuk pembelajaran mandiri. Anda tahu bahwa modul ini mencakup media cetak. Namun karena uraian materi dilengkapi dengan ilustrasi visual dengan gambar, foto, dan grafik, maka modul juga menyajikan alat peraga visual untuk membantu menjelaskan materi. Selain itu, modul juga menyediakan sumber referensi, dan bahan tersebut digunakan sebagai sumber materi itu.  Dalam modul ini juga terdapat beberapa pekerjaan rumah/latihan untuk mendorong peserta didik mengamati kejadian disekitarnya sebagai tugas mencari sumber belajar di luar modul. Oleh karena itu, melalui ilustrasi ini, anda mendapatkan pemahaman bahwa terdapat hubungan yang saling mendukung antara bahan ajar, alat peraga, media pembelajaran, dan sumber belajar.

 

Bagaimana media pembelajaran di perguruan tinggi??

Studi tentang pemanfaatan/menggunakan media pembelajaran di perguruan tinggi (PT) yang dilakukan di sejumlah PT baik swasta maupun negeri, mereka menggunakan media dan teknologi dalam proses pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan Pribadi (2001) yang menemukan bahwa 35% responden dari 612 dosen PT Swasta (PTS) menyatakan bahwa mereka selalu menggunakan media dan teknologi pembelajaran dalam kegiatan perkuliahan. Studi yang sama juga menunjukkan bahwa 69% responden memiliki berbagai media yang dikelolah perguruan tinggi swasta.

Penggunaan media dan teknologi pembelajaran di PT tidak hanya membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa, tetapi juga membantu dosen PT mempermudah proses belajar, memperjelas materi pembelajaran dengan berbagai contoh yang kongkret, mendorong interaksi dengan mahasiswa, memberi kesempatan kepada mahasiswa, dan memberi peluang evaluasi dalam berbagai bentuk media dan teknologi pembelajaran (Pribadi and Padmo, 2001). Agar penggunaan media dan teknologi pembelajaran dapat memberikan kontribusi positif terhadap hasil belajar mahasiswa, Penggunaan media harus memperhatikan beberapa faktor dalam pemilihan media. Smith and Ragan (1993) mengemukakan faktor-faktor berikut untuk memilih media pembelajaran: 1) tugas pembelajaran beserta kondisi pembelajaran yang memfasilitasi pembelajaran, 2) karakteristik peserta didik, 3) konteks pembelajaran dan hal-hal praktis lainnya yang mempengaruhi kesesuaian media, dan 4) Atribut media potensial (apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh setiap media potensial).

Peran teknologi dan media dalam belajar di PT sangat penting. Karena saat pembelajaran berpusat pada dosen, teknologi dan media berperan dalam mendukung kinerja pembelajaran. Disisi lain, ketika pembelajaran berpusat pada mahasiswa, mahasiswa akan bertindak sebagai pengguna media dan menggunakan teknologi dan media untuk mengungkapkan pemikiran, hasil penelitian, dll. Namun secara umum, peran penting teknologi dan media berlangsung dalam pembelajaran yang berpusat pada dosen. Salah satu peran dari teknologi dan media adalah memberikan layanan untuk lingkungan belajar yang terus berubah. Teknologi akan membantu menampilkan media pembelajaran. 

 

Apa saja media pembelajaran yang dibutuhkan di perguruan tinggi

Seiring perubahan mahasiswa dan dunia, maka pendidikan menghadapi tantangan baru dan perguruan tinggi merasakan tekanan pada sistem mereka untuk memenuhi pembelajaran pada abad 21. Ada empat faktor yang perlu diperbaiki termasuk: 1) meningkatnya kebutuhan akan bimbingan formal dan keterampilan kunci baru, termasuk literasi informasi, literasi visual, dan literasi teknologi; 2) mahasiswa saat ini berbeda, tetapi praktik pendidikan dan pengetahuan dasar ini perlahan berubah; 3) kombinasi pembelajaran dengan pembelajaran kehidupan nyata tidak cukup, dan biasanya tidak tepat saat dilanjutkan; 4) pada abad 21, orang menyadari bahwa teknologi baru harus diadopsi dan digunakan sebagai bagian dari kegiatan kelas sehari-hari. Tetapi sulit untuk melakukan perubahan ini.

Adanya teknologi dapat menyelesaikan permasalahan di atas. Penggunakan teknologi merupakan cara belajar mahasiswa baik di dalam kelas maupun di luar kelas, karena mereka akan merasakan adaptasi sendiri terhadap alat-alat tersebut, yang sekarang disebut pembelajaran jarak jauh (distance learning). Mahasiswa harus memiliki akses yang adil ke web. Dosen harus menerima pengembangan professional sehingga mereka nyaman dengan dengan alat, dan yang paling penting mengintegrasikan aplikasi web 2.0 memiliki proses berpikir yang mengandalkan praktik terbaik, penelitian, dan pengajaran yang kuat. Perguruan tinggi harus mengatasi tantangan ini (Solomon and Schrum, 2010). Difusi yang cepat dan ada di mana-mana dari media digital ke dalam pendidikan tinggi menyebabkan perubahan konstan dari lingkungan belajar mahasiswa dan juga mempengaruhi perilaku belajar mereka. Ini mendesak perguruan tinggi untuk memahami dan menganalisis pola penggunaan media mahasiswa secara komprehensif.

Menurut  Grosch (2013) penggunaan media pembelajaran tidak hanya mencakup e-learning (berbasis web), tetapi juga penggunaan media berbasis teks dan media lainnya, baik elektronik maupun cetak. Tidak hanya media yang disediakan oleh dosen, tetapi juga media yang digunakan mahasiswa untuk belajar mandiri dan informal. Media memainkan peran kunci dalam globalisasi pendidikan karena memberikan kesempatan kepada lembaga pendidikan untuk menjangkau mahasiswa di seluruh dunia. Proses ini mendorong pembentukan pasar internasional dalam pendidikan tinggi.

 

Apa saja media pembelajaran yang dibutuhkan di perguruan tinggi?

Ragam media pembelajaran itu ada media non-elektronik dan media elektronik. Media non-elektronik meliputi: text, visuals, manipulatives, people, alam dan lingkungan, dll; sedangkan media elektronik meliputi: podcast (podcast interview, podcast solo, podcast multi-host, tape recorder, radio, dll), vodcast (video, youtube, television, dll), lingkungan virtual/virtual learning environment (VLE), augmented reality (AR), video conference (zoom, google meet, webex, teams, skype, dll), jejaring sosial (twitter, linkedin, facebook, instagram, whatsapp, telegram, line, google+, dll), Blog/website, internet, handphone, komputer.

Media pembelajaran yang dibutuhkan di perguruan tinggi harus melihat fungsi, manfaat dan kegunaannya. Pada abad 21 ini dibutuhkan media pembelajaran yang biasa disebut media digital seiring dengan perkembangan teknologi untuk menunjang proses belajar mengajar. Akan tetapi media analog, masih tetap terpakai sesuai dengan fungsi, manfaat, dan kegunaanya dalam proses pembelajaran. Misalnya media berbasis teks dan media berbasis pengalaman langsung ini masih dibutuhkan dalam pembelajaran.

Apa yang dimaksud dengan media digital? Media dikodekan dalam format yang dapat dibaca mesin (machine-readable). Dapat membuat, melihat, mendistribusikan, memodifikasi media digital, dan dapat bertahan di perangkat elektronik digital. Program dan perangkat lunak  komputer, seperti gambar digital, video digital, video games; halaman web dan situs web, termasuk media sosial, jejaring sosial; audio digital, seperti mp3, mp4, dan e-book, virtual learning environment (VLE), augmented reality (AR), video conference adalah contoh media digital. Media digital sangat berbeda dengan media analog. Media analog mengandalkan sistem manual. Misalnya media cetak, buku cetak, koran, majalah, dan masih bersifat tradisional seperti berupa gambar, kaset film, tape audio, dan lain-lain (Martin and Betrus, 2019).

Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada dosen, penggunaan teknologi dan media secara luas dapat memberikan dukungan tambahan. Misalnya, ketika mahasiswa memperkirakan pertumbuhan populasi selama periode waktu tertentu, dosen dapat menggunakan papan tulis elektronik untuk menampilkan berbagai grafik batang. Menampilkan rekaman video “simulasi mengajar” di sekolah bisa memudahkan presentasi dosen tentang bagaimana cara praktik mengajar yang sesuai dengan keterampilan dasar mengajar. Tentu, bahan ajar yang dirancang dengan baik dapat meningkatkan dan mendorong pembelajaran. Tetapi keefektifanya tergantung pada perencanaan dan pemilihan sumber belajar yang tepat dan cermat.

Saat ini teknologi berkembang sangat pesat, dan dosen dapat membekali mahasiswa dengan aplikasi pembelajaran sesuai dengan tingkat pemahamannya. Dosen akan dapat dengan cepat menilai tugas dengan segera dan mengarahkan tugas langsung kepada mahasiswa berdasarkan gaya belajar masing-masing. Mahasiswa akan berkomunikasi dengan teman sebaya, dosen, ahli, dan lain-lain saat dibutuhkan. Serta berkolaborasi dalam tim untuk menyelesaikan tugas sesuai kebutuhan. Temuan mereka ditampilkan secara online, termasuk gambar, suara, video, dan lain-lain. Semua alat yang mereka butuhkan akan terintegrasi atau mudah diakses. Dosen-dosen tidak akan mencari alat yang tepat untuk penugasan, mahasiswa hanya perlu menekan tombol fungsi yang dibutuhkan dan langsung terhubung. Selain itu, para pemimpin akan tahu bagaimana mendukung para dosen, Ketika mereka merevisi dan menemukan cara baru untuk mengajar. Media yang dipakai dalam pernyataan diatas berbasis web.

Pengaruh teknologi dan media dalam proses pembelajaran abad ke-21 terhadap peran dosen dan mahasiswa di kelas. Dosen dan buku teks tidak lagi menjadi sumber semua informasi. Sebaliknya, dosen menjadi fasilitator perolehan pengetahuan. Dengan beberapa penekanan tombol, mahasiswa dapat menjelajahi dunia menggunakan sumber daya online yang tidak terbatas dan beragam media digital untuk mendapatkan informasi yang mereka cari dan kemudian mendiskusikan temuan mereka dalam percakapan waktu nyata dengan para ahli dan mahasiswa yang tinggal di negara lain.

Dalam proses pembelajaran ini, inovasi teknologi dan media memberikan mahasiswa kami cara yang tiada habisnya untuk memperluas kesempatan pendidikan, namun juga membawa tantangan baru bagi para dosen. Bagaimana anda akan melampaui teks? Bagaimana anda akan memilih teknologi dan media yang "benar" ketika begitu banyak pilihan tersedia? dan yang paling penting, bagaimana anda akan menciptakan pengalaman belajar yang secara efektif menggunakan alat dan sumber belajar ini untuk memastikan bahwa mahasiswa anda memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru?

Menurut Grosch (2013) untuk membuat prediksi masa depan yang andal dan untuk menciptakan basis pengetahuan dasar bagi pengurus universitas dan dosen mengenai penggunaan media mahasiswa, pertama-tama penggunaan media saat ini perlu diukur. Melanjutkan dari cakupan empiris yang komprehensif dan terperinci ini selama periode waktu tertentu, pola penggunaan tertentu dapat diidentifikasi dan karenanya, prediksi yang andal dapat dibuat tentang tren masa depan. Dalam konteks tersebut, mahasiswa dianggap sebagai individu aktif yang menggunakan media oleh keputusan dan motivasi sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, misalnya media yang ada dan lingkungan belajar atau budaya fakultas. Mengingat hal ini, fokus tujuannya sebagai berikut (Grosch, 2013):

  1. Evaluasi rinci penggunaan media untuk belajar, termasuk frekuensi penggunaan media, kepuasan dan penerimaan layanan internal dan eksternal universitas: media cetak, teks elektronik, media sosial, media informasi dan komunikasi, layanan e-learning dan perangkat keras TI
  2. Perbandingan penerimaan media untuk belajar antara negara-negara yang disurvei
  3. Perbandingan penerimaan media pembelajaran antara peserta didik dan pengajar
  4. Perubahan media penerimaan peserta didik dari waktu ke waktu
  5. Kepemilikan perangkat media oleh peserta didik

Hasilnya akan digunakan untuk memberikan rekomendasi strategi media universitas. Dalam jangka panjang, ini bertujuan untuk mengadakan survei internasional jangka panjang tentang penggunaan media di perguruan tinggi yang secara konstan mencakup penggunaan media oleh mahasiswa dan pemangku kepentingan lainnya (dosen, administrator) pendidikan tinggi. Oleh karena itu, model teori yang memadai dan dapat diterapkan harus dipilih, yang bertahan lebih lama dari perubahan dinamis dalam lingkungan media selama beberapa tahun dan mencakup kemungkinan faktor pengaruh internal (individu) maupun eksternal (lingkungan).

Masa depan media digital di perguruan tinggi menurut Miralles (2015) sebagai berikut: 1) membangun sebuah merek, 2) menemukan inspirasi di vertikal lainnya (memahami perintah adalah tentang kenyamanan, ubah setiap interaksi menjadi peluang, bangun kepercayaan dengan transparansi), 3) perluasan dunia digital, 4) lima konsep untuk membangun yayasan digital yang kuat (keep the overall goal in mind, track cross-channel impacts, become location  aware, expand keyword footprint, drive brand awareness), 5) mendefinisikan tujuan digital untuk jangka Panjang, 6) pikiran berpartisan.

Dapat disimpulkan bahwa masa depan media digital di perguruan tinggi akan terus berkembang seiiring dengan perkembangan teknologi. Penerapan media digital kedalam aplikasi pembelajaran digital meliputi mobile learning, jejaring sosial, media sosial, game based learning (pembelajaran berbasis permainan), pembelajaran elektronik berbasis “cloud computing” dan lain-lain juga akan mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhan dalam proses pembelajaran.    

 

DAFTAR PUSTAKA

Cepi Riyana (2019) Produksi bahan pembelajaran berbasis online. Pertama. Jakarta: Universitas Terbuka.

Daryanto (2013) Media Pembelajaran: Peranannya sangat penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. Ke dua. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.

Grosch, M. (2013) “Media Use in Higher Education from a Cross-National Perspective,” Electronic Journal of e-Learning, 11(3), pp. 226–238.

Halliday, J. (2000) “Instructional Technology for Teaching and Learning: Designing Instruction, Integrating Computers, and Using Media,” Educational Technology & Society, 3(2), pp. 106–107.

Johnson D. W., J. R. T. and S. K. A. (1991) Active learning: Cooperation in the college classroom. 8th edn. Edina: Interaction Book Company.

Martin, F. and Betrus, A. K. K. (2019) Digital media for learning: Theories, processes, and solutions, Digital Media for Learning: Theories, Processes, and Solutions. Springer International Publishing. doi: 10.1007/978-3-030-33120-7.

Miralles, S. (2015) The Future of Digital Media in Higher Education. Thruline Marketing. Available at: http://pass2play.blogspot.com/2010/09/future-of-digital-media-in-classroom.html.

Pollio, H. R. 1984 (1984) “What Students Think About and Do in College Lecture Classes” in Teaching-Learning Issues Issues No. 53,” Learning Research Centre, Tennese: University of Tennesse.

Pribadi, B. and dkk (2001) Laporan hasil studi kajian standarisasi dan pemanfaatan media pembelajaran di perguruan tinggi swasta (PTS). Jakarta: Direktorat Pembinaan Kelembagaan dan Pemberdayaan Peran Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Pribadi, B. and Padmo, D. P. (2001) Ragam media dalam pembelajaran. applied approach di Perguruan Tinggi. Jakarta: PAU-PPAI, Dirjen Dikti, Depdiknas.

Rickard, H. C. et al. (1988) “Some Retention, But Not Enough,” Teaching of Psychology, 15(3), pp. 151–152. doi: 10.1207/s15328023top1503_14.

Rusman (2017a) Belajar dan pembelajaran: Berorientasi standar proses pendidikan. Cetakan ke 1. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Rusman (2017b) Belajar & Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. 1st edn, PT Kharisma Putra Utama. 1st edn. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Available at: https://books.google.co.id/books/about/Belajar_Pembelajaran.html?id=mKhADwAAQBAJ&printsec=frontcover&source=kp_read_button&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false.

Silberman, M. L. (2009) “Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif (Alih bahasa: Raisul Muttaqien). rev.ed,” in. Bandung: Nusamedia.

Smaldino, S. E. et al. (2004) “Instructional technology and media for learning,” p. p.13.

Smaldino, S. E., Lowther, D. L. and Mims, C. (2019) Instructional technology and media for learning. 12 ed., Revista mexicana de investigación educativa. 12 ed. Edited by K. Davis. Pearson Education.

Smith, P. L. and Ragan, T. J. (1993) Instructional design. New York: Macmillan Publishing Company.

Solomon, G. and Schrum, L. (2010) Web 2.0 how-to for educators, Journal of Chemical Information and Modeling. Washington, DC: International Society for Technology in Education.

Vella, F. (1988) “Teaching tips: a guidebook for the beginning college teacher 8th edition,” Biochemical Education, 16(2), p. 112. doi: 10.1016/0307-4412(88)90090-8.

Warsita, B. (2008) Teknologi pembelajaran, landasan dan aplikasinya . Jakarta: Rineka Cipta.

 

Sumber: Buku Perkembangan Media Pembelajaran di Perguruan Tinggi